Teknologi Mifare dalam Kartu E-money

Kartu e-money  saat ini memang sedang naik daun, bukan karena teknologi yang menyertainya namun juga karena kepraktisan dan beberapa keuntungan yang di dapatkan. Seperti yang saat ini sedang trend, dimana hampir seluruh Bank di Indonesia ( baik itu bank milik pemerintah maupun swasta ) memiliki produk jenis ini. Sejak kapan produk uang elektronik ini mulai diperkenalkan di Indonesia? Dikutip dari dailyssocial.id, produk Flazz BCA mulai di launch pada tahun 2007 yang merupakan pioneer untuk terknologi tersebut dan per tahun 2016. Kartu Flazz yang beredar di masyarakat mencapai 9,5 juta kartu dan volume transaksinya mencapai 1 triliun rupiah. Gebrakan dari BCA diikuti oleh Bank Mandiri yang mengeluarkan produk e-money Mandiri pada tahun 2009. Hingga tahun 2016 total peredaran kartu e-money Mandiri mencapai 8 juta dan volume transaksi mencapai 30 juta transaksi. Wow, angka yang fantastis untuk sebuah produk uang elektronik, mengingat tingkat kepercayaan mengenai keamanan data elektronik belum begitu besar.

E-Money di Indonesia

Mengedukasi masyarakat tentang keamanan dari penggunaan e-money. Bukan hal yang mudah, dari rentang tahun 2007 hingga 2009 merupakan masa yang cukup terjal untuk penetrasi e-money di masyarakat. Pada tahun 2009 pada saat BI mengeluarkan peraturan dengan nomor 11/12/PBI/2009 mengenai pengesahan penggunaan uang elektronik di Indonesia (kutipan dari publik.id). Pengesahan inilah yang memacu pergerakan penggunaan dan penerbitan produk e-money menjadi lebih massif , karena didukung oleh sektor swasta dan pemerintah. Dikutip dari tulisan Ajisatria Sulaiman yang merupakan Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia bahwa sepanjang tahun 2016, transaksi uang elektronik berhasil mencapai Rp 7,05 triliun, naik Rp 5,28 trilliun dari tahun sebelumnya. Di bulan Juli 2017 sendiri, transaksi uang elektronik berhasil mencatatkan rekor tertinggi sebesar Rp 1,14 triliun. Porsi transaksi uang elektronik dilaporkan telah mencapai 22,68 persen dari total transaksi non tunai. Jauh meningkat dibandingkan tahun 2009 yang baru mencapai sekitar 2,37 persen ( fintech.id).

Sejarah E-Money

Jika kita kembali pada masa awal lahirnya teknologi ini, kita harus kembali pada tahun 1983 dimana seorang kriptografer bernama David Chaum. Dikutip dari Wikipedia, pria bernama lengkap David Lee Chaum yang lahir pada tahun 1955 dan mendapatkan gelar doktor di Universitas Barkeley California di tahun 1982 mengembangkan sebuah aplikasi menyerupai uang elektronik yang berusaha untuk mempertahankan anonimitas dari pengguna yang dinamai “e-cash”. Berbekal dari hasil penelitian tersebut, David membentuk sebuah perusahaan bernama DigiCash ditahun 1989 yang fokus pada uang elektronik. Namun sangat disayangkan pada tahun 2002, DigiCash dinyatakan bangkut dan telah menjual seluruh assetnya.

Implementasi e-Money

Sejalan dengan waktu dan daya dukung infrastruktur teknologi yang semakin membaik, adopsi dari e-money mulai diterima oleh masyarakat Indonesia. Terlebih dari sisi kebijakan pemerintah yang pro pada penggunaan e-money ini sehingga membuat masyarakat lebih percaya diri untuk memanfaatkan teknologi uang yang tak kasat mata ini. Titik tolak “booming” nya penetrasi e-money ini adalah dikeluarkannya kebijakan mengenai penggunaan uang elektronik di jalan tol mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 16/PRT/M/2017 Tahun 2017 tentang Transaksi Tol Nontunai di Jalan Tol di mana penggunaan uang elektronik merupakan salah satu bentuk teknologi dalam Transaksi Tol Nontunai di jalan tol.

Penerapan Transaksi Tol Nontunai per tanggal 31 Oktober 2017 sudah berlaku sepenuhnya di seluruh jalan tol. Dimana implikasinya adalah setiap pengguna TOL ini “dipaksa” untuk menggunaan kartu e-money dari Bank yang bekerjasama dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Dengan penggunaan “kartu TOL” ini diharapkan dapat memangkas proses pembayaran di gardu TOL hanya menjadi 3-5 detik.  Dengan menerapkan teknologi frekuensi gelombang pendek antara kartu dan pembaca (reader), sehingga akan mengurangi antrian.

Bagaimana kartu e-money berkerja ?

Jika kita pernah membeli dan mempunyai kartu e-money, hal pertama yang kita lakukan adalah melakukan top-up atau pengisian uang pada kartu. Top-up ini biasanya dapat dilakukan di ATM Bank penerbit kartu atau dibeberapa gerai yang sudah bekerjasama dengan Bank penerbit seperti gerai Alfamart. Top-up ini bermaksud untuk menambahkan nominal uang ke kartu yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk melakukan pembayaran atau pembelian barang di beberapa merchant yang sudah bekerja sama. Langkah yang cukup mudah dan praktis dalam memanfaatkan produk ini. Tapi apakah pernah muncul pertanyaan, bagaimana caranya kartu tersebut dapat menangkap data, disimpan dan dibaca oleh reader ?

Nah, dibalik kemudahan itu terdapat teknologi RFID yang diimplementasikan. Apa itu RFID ? Dikutip dari Wikipedia Indonesia, RFID (bahasa Inggris: Radio Frequency Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID atau transponder untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh.

Frekuensi yang diatur dalam teknologi ini terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan frekuensi yang digunakan, yaitu  120–150 kHz (Low Frequency) , 13.56 MHz (High Frequency) , 433 MHz (Ultra High Frequency) , 865-868 MHz (Europe) 902-928 MHz (North America) UHF , 2450-5800 MHz (microwave) , 3.1–10 GHz (microwave). Untuk level konsumer, teknologi RFID yang digunakan adalah yang memiliki frekuensi 125 kHz dan 13,56 MHz dimana salah satunya banyak digunakan di produk kartu e-money.

Kartu e-money yang beredar di Indonesia menggunakan frekuensi 13,56 MHZ yang memungkinkan kartu ini cukup di tempel di reader untuk melakukan pembacaan data yang ada di dalam kartu. Kartu semacam ini sering disebut sebagai kartu MiFare.

Bedah Kartu MiFare.

Mifare sebenarnya merupakan sebuah terminology yang berasal dari kata Mikron Fare Collection yang merupakan sebuah merek dari NXP Semiconductors. Di dalam MiFare ini akan disematkan sebuah RFID pada lapisan kartu, sehingga pembacaan reader ini cukup melakukan tapping. Pada kartu Mifare ini juga sudah tertanam secure microcontroller, internal memory dan sebuah antenna micro yang memancarkan sinyal radio ke reader (dalam jarak dekat) sehingga dimungkinkan terjadinya transfer data secara cepat. Itulah mengapa, kartu e-money dibuat dengan kartu Mifare karena kartu ini sudah mempunyai media penyimpanan (walaupun tidak besar). Keluarga Mifare pun terdiri dari beberapa jenis seperti Mifare Classic , Mifare Plus, Mifare DESIre, dan Mifare Ultralight dimana sebagain besar implementasinya digunakan untuk kartu transportasi (saat ini diimplementasikan oleh KAI Commuter Line), kartu anggota sekolah dan klub, kartu karyawan, kartu loyarti dari merchat, kartu pembayaran game (Timezone), kartu parkir dan lainnya.

Kartu Absen

Biarpun sebagian besar manfaat dari Kartu MiFare digunakan untuk sisi komersial, kartu ini juga digunakan sebagai kartu karyawan dimana dapat dijadikan sebagai identitas sekaligus kartu absen. Pemanfaatan sebagai kartu absen juga sudah cukup banyak diimplementasikan sebagian besar entitas bisnis dikarenakan beberapa alasan, diantaranya: proses identifikasi yang cukup cepat, kemudahan penggunaan dengan cara tap ke mesin reader-nya dan lebih praktis.

Sebuah merk mesin absen terkenal Easyclocking dari Amerika Serikat juga sudah mengadopsi pemakaian kartu Mifare sebagai sarana absen maupun akses pintu. Dari seluruh range produk yang di produksi oleh Easyclocking yang dimulai dari Xenio 200 (absen berdasarkan biometric, PIN, RFID dan Mifare), Xenio 500 (dengan kemampuan yang sama dengan Xenio 200 ditambah dengan sensor multispectral imaging yang memiliki sensor lebih kuat), Xenio 700 (kemampuan setara dengan Xenio 500 ditambah kemampuan multispectral imaging yang lebih besar), serta Xenio IRIS (mesin biometric berdasarkan pembacaan IRIS mata)

Teknologi Mifare dalam Kartu E-money

Dengan beberapa sertifikasi yang dimiliki, produk mesin absen dari Easyclocking memberikan kualitas yang termudah tanpa meninggalkan masalah teknologi dan keamanan.

Seluruh mesin absen Easyclocking ditanamkan teknologi terbaik di kelasnya. Sebagai contoh produk Xenio i1000 (Xenio Iris) ditanamkan teknologi pengenalan biometric berbasis pada IRIS mata. Kamera yang memiliki tugas utama melakukan capture data IRIS dilengkapi dengan penerangan IR dengan tujuan dapat digunakan pada area yang temaram dan motorized kamera dimana kamera akan menyesuikan tinggi dari karyawan (sehingga karyawan tidak perlu menunduk). Input menggunakan PIN di dukung dengan tersedianya touch screen LCD berwarna serta tentunya kartu Mifare. Dengan adanya reader Mifare di produk Xenio memungkinkan sistem absen dengan memanfaatkan kartu e-money.

LIHAT LEBIH DETAIL TEKNOLOGI MESIN ABSENSI MATA DAN KARTU MIFARE

 

WhatsApp chat